“Yang fana adalah waktu, kita abadi”
Tentang pencarian jati diri..
Yang bisa saja terjadi di sepanjang perjalanan hidup kita.
Terus mengenali sifat, karakter, dan apa yang kita mau dalam hidup kita.
Kadang bisa jadi terkejut, ketika kita menemukan satu sifat atau karakter yang kita tidak pernah sangka sebelumnya. Karena manusia itu berproses, manusia itu dinamis, dan selalu berubah..
Ada sebuah teori psikologi klasik yaitu Jendela Johari.
Johari membagi pribadi manusia dalam 4 jendela yang berbeda.
Jendela pertama melambangkan sifat-sifat yang saya tahu dan orang lain tahu.
Jendela kedua menggambarkan sifat-sifat yang saya tahu, namun orang lain tidak tahu.
Jendela ketiga menggambarkan sifat-sifat yang saya tidak tahu, tapi orang lain tahu.
Yang terakhir adalah jendela yang keempat, dimana saya dan orang lain sama-sama tidak tahu.
Intinya, ada hal-hal yang tetap saja hanya Tuhan yang tahu.
Perjalanan panjang, bisa jadi sampai mati pun belum kita akan ketahui siapa diri kita sebenarnya.
Namun sebenarnya, walaupun raga kita mati, jiwa kita terus abadi..
“Yang fana adalah waktu, kita abadi”
(Sapardi Joko Damono, 1978)
Yang bisa saja terjadi di sepanjang perjalanan hidup kita.
Terus mengenali sifat, karakter, dan apa yang kita mau dalam hidup kita.
Kadang bisa jadi terkejut, ketika kita menemukan satu sifat atau karakter yang kita tidak pernah sangka sebelumnya. Karena manusia itu berproses, manusia itu dinamis, dan selalu berubah..
Ada sebuah teori psikologi klasik yaitu Jendela Johari.
Johari membagi pribadi manusia dalam 4 jendela yang berbeda.
Jendela pertama melambangkan sifat-sifat yang saya tahu dan orang lain tahu.
Jendela kedua menggambarkan sifat-sifat yang saya tahu, namun orang lain tidak tahu.
Jendela ketiga menggambarkan sifat-sifat yang saya tidak tahu, tapi orang lain tahu.
Yang terakhir adalah jendela yang keempat, dimana saya dan orang lain sama-sama tidak tahu.
Intinya, ada hal-hal yang tetap saja hanya Tuhan yang tahu.
Perjalanan panjang, bisa jadi sampai mati pun belum kita akan ketahui siapa diri kita sebenarnya.
Namun sebenarnya, walaupun raga kita mati, jiwa kita terus abadi..
“Yang fana adalah waktu, kita abadi”
(Sapardi Joko Damono, 1978)
Komentar
Posting Komentar