tolak ukur

Barangkali aku salah,
Ketika aku menjadikan titik kulminasi kedekatan seorang hamba pada Tuhannya adalah saat terijabahnya sebuah do'a..

Barangkali aku salah,
Ketika aku merasa do'a tidak juga terijabah adalah semata-mata karena menggunungnya dosa-dosa ku..

Barangkali aku juga salah,
Ketika aku mengira bahwa orang yang dekat dengan Tuhannya adalah orang yang do'a-nya senantiasa terijabah.

Dan barangkali aku juga salah,
Saat aku berpikir bahwa: Orang dengan kuantitas ibadah yang istimewa akan otomatis kualitas keimanannya, kepribadiannya, cara berpikirnya, kesholihannya dan ketaqwaannya selalu terkondisikan dalam keadaan baik, lurus dan benar.
Emm.. mungkin tepatnya: Nyaris! tanpa salah dalam hidupnya.

Namun bisa jadi aku salah.
Salah. Jika akau menilai bahwa orang dengan kuantitas ibadah yang istimewa sudah otomatis mereka dekat dengan Tuhannya.

Ya. Bisa jadi aku salah.
Salah. Jika aku berpikir bahwa dengan kualitas ibadah yang baik akan otomatis doanya-doanya akan selalu terijabah.

Jika benar, bagaimana mungkin RasuluLlaah cedera dalam peperangan?
Jika benar, mengapa para sabiqunal awwalun merasakan lapar dan sakit?
Dan jika benar, maka dimana korelasi dari ayat:  "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadanya dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. 2:155)

Jadi mungkin..
Sebaiknya.. Kita benahi saja ibadah kita. Benahi sebaik-baiknya.
Selebihnya hiasi dengan taqwa (rasa takut), sabar (ketika doa belum terijabah) dan syukur (dengan memperbanyak ibadah sunnah).
Barangkali begitu..
...

Setelah itu, biarkan hidup berjalan sesuai dengan sunatuLlaahnya..
Yang tertulis pada taqdir kita masing-masing..
...



Komentar

Postingan Populer