Tentang aku,
"mungkin seharusnya aku tidak keberatan suamiku menikah lagi.
apapun alasannya. dengan siapapun orangnya.
dulu, aku tidak memberatkannya.
kenapa sekarang aku jadi memberatkannya?"
Rabb..
Sesungguhnya Engkau yang Maha Mengetahui tapak-tapak kehidupan ruhiyah hambaMu ini..
Bagaimana tiap detik hamba menatanya..
Bagaimana hamba bergelut dengan sifat fitrah yang Engkau karuniakan.
Seperti apa hamba menangisinya,
Dan berusaha mengambil hikmah dari setiap kesedihan dan kekecewaan.
Bagaimana hamba berusaha memahaminya, memaafkannya, dan memberikan setulus-tulusnya cinta kepadanya.
Rabb..
Sesungguhnya Engkau menjadi saksi.
Bahwa suamiku tidak memberikan pengertian apapun tentang poligami.
Bahwa suamiku tidak menenangkan hamba untuk hal ini.
Bahwa suamiku tidak pernah menunjukkan kesungguhan seperti yang dikatakannya; "Bahwa sebenarnya dia tidak ingin berpoligami kepadaku karena ia mencintaiku." Tidak Ya Rabb.. Tidak!
Suamiku hanya mengatakan. Bahwa poligami adalah taqdir!
Selanjutnya aku mencari dan mencari sendiri tentang hakikat poligami.
Antara membencinya karena trauma dan harus menerima syariat,
trauma ditinggalkan,
trauma di rampas,
trauma diabaikan,
trauma menjadi yang terburuk.
Sementara syari'at membolehkannya.
Antara taqdir dan rasa dendam,
Kehidupan terus berjalan..
Bagaimana akhlaq suamiku yang tidak menenteramkan,
Membuatku hampir berputus asa.
Antara menjadikannya qowwam dan kegalauan akan pemahamannya selama ini.
Antara menenteramkan diri bahwa ini bagian dari taqdir dan gejolak fitrah untuk mencintainya.
Ah, Engkau lebih mengetahui apa yang ada di dalam batin ini Ya Rabb..
Akhirnya ku ambil keputusan..
Untuk tetap mencintainya. Bahkan membanjirinya dengan cinta.
Dengan satu kekuatan. Kekuatan bahwa dia adalah suamiku. Surga atau nerakaku.
Sementara hantu poligami tetap bergelayut dikepalaku.
Ah!
Dari akhlaqnya yang "membebaskan" wanita, membuatku menyerah.
Hingga terlontarlah kata "terserah!".
Mungkin itulah dunianya.
Bahkan aku memfasilitasinya untuk sekedar mengobrol dengan perempuan.
Mungkin aku bodoh! Tolol!
Tapi.. Karena aku mencintainya dan ingin meng-cover segalanya.
Segala yang membuat dia "bahagia".
Sekarang aku sadar.
Bahwa itu adalah kebodohan.
Ya. kebodohan yang membuatnya bertemu dengan perempuan itu.
Dan aku tidak akan mengulang dua kali kebodohan.
Dengan mengatakan: "terserah!".
Kini aku kembali berjuang.
Berjuang untuk kami tetap menjadi UTUH.
Baru kemarin aku mengerti. Bahwa poligami adalah untuk mengangkat harkat dan mertabat seorang wanita. Bukan sekedar keinginan.
Dan aku, tidak mau anakku trauma dengan poligami disebabkan karena pemahaman yang salah.
Saat ini, aku dihadapkan oleh kenyataan bahwa suamiku telah berselingkuh.
Berselingkuh atas nama dakwah.
Hanya karena merasa pernah mengisi pengajian.
Merasa telah membangun dakwah disana.
Sementara kita disini dihancurkan.
Dibohongi. Atas nama ALLAH pula.
Begitukah dakwah?
Ridhokah Engkau Yaa ALLAH?
apapun alasannya. dengan siapapun orangnya.
dulu, aku tidak memberatkannya.
kenapa sekarang aku jadi memberatkannya?"
Rabb..
Sesungguhnya Engkau yang Maha Mengetahui tapak-tapak kehidupan ruhiyah hambaMu ini..
Bagaimana tiap detik hamba menatanya..
Bagaimana hamba bergelut dengan sifat fitrah yang Engkau karuniakan.
Seperti apa hamba menangisinya,
Dan berusaha mengambil hikmah dari setiap kesedihan dan kekecewaan.
Bagaimana hamba berusaha memahaminya, memaafkannya, dan memberikan setulus-tulusnya cinta kepadanya.
Rabb..
Sesungguhnya Engkau menjadi saksi.
Bahwa suamiku tidak memberikan pengertian apapun tentang poligami.
Bahwa suamiku tidak menenangkan hamba untuk hal ini.
Bahwa suamiku tidak pernah menunjukkan kesungguhan seperti yang dikatakannya; "Bahwa sebenarnya dia tidak ingin berpoligami kepadaku karena ia mencintaiku." Tidak Ya Rabb.. Tidak!
Suamiku hanya mengatakan. Bahwa poligami adalah taqdir!
Selanjutnya aku mencari dan mencari sendiri tentang hakikat poligami.
Antara membencinya karena trauma dan harus menerima syariat,
trauma ditinggalkan,
trauma di rampas,
trauma diabaikan,
trauma menjadi yang terburuk.
Sementara syari'at membolehkannya.
Antara taqdir dan rasa dendam,
Kehidupan terus berjalan..
Bagaimana akhlaq suamiku yang tidak menenteramkan,
Membuatku hampir berputus asa.
Antara menjadikannya qowwam dan kegalauan akan pemahamannya selama ini.
Antara menenteramkan diri bahwa ini bagian dari taqdir dan gejolak fitrah untuk mencintainya.
Ah, Engkau lebih mengetahui apa yang ada di dalam batin ini Ya Rabb..
Akhirnya ku ambil keputusan..
Untuk tetap mencintainya. Bahkan membanjirinya dengan cinta.
Dengan satu kekuatan. Kekuatan bahwa dia adalah suamiku. Surga atau nerakaku.
Sementara hantu poligami tetap bergelayut dikepalaku.
Ah!
Dari akhlaqnya yang "membebaskan" wanita, membuatku menyerah.
Hingga terlontarlah kata "terserah!".
Mungkin itulah dunianya.
Bahkan aku memfasilitasinya untuk sekedar mengobrol dengan perempuan.
Mungkin aku bodoh! Tolol!
Tapi.. Karena aku mencintainya dan ingin meng-cover segalanya.
Segala yang membuat dia "bahagia".
Sekarang aku sadar.
Bahwa itu adalah kebodohan.
Ya. kebodohan yang membuatnya bertemu dengan perempuan itu.
Dan aku tidak akan mengulang dua kali kebodohan.
Dengan mengatakan: "terserah!".
Kini aku kembali berjuang.
Berjuang untuk kami tetap menjadi UTUH.
Baru kemarin aku mengerti. Bahwa poligami adalah untuk mengangkat harkat dan mertabat seorang wanita. Bukan sekedar keinginan.
Dan aku, tidak mau anakku trauma dengan poligami disebabkan karena pemahaman yang salah.
Saat ini, aku dihadapkan oleh kenyataan bahwa suamiku telah berselingkuh.
Berselingkuh atas nama dakwah.
Hanya karena merasa pernah mengisi pengajian.
Merasa telah membangun dakwah disana.
Sementara kita disini dihancurkan.
Dibohongi. Atas nama ALLAH pula.
Begitukah dakwah?
Ridhokah Engkau Yaa ALLAH?
Komentar
Posting Komentar