Terkadang kemampuan akal kita tidak bisa mencerna atau menerima apa-apa yang ALLAH taqdirkan untuk kita..
Kita hanya bisa menduga human error kita sebagai manusia, atau menyalahi keadaan yang tidak mendukung..
Kenapa tidak dengan legowo saja kita katakan:
"Mungkin memang belum rejeki kita.."
Bukankah segala yang menjadi rejeki kita akan sampai kepada kita dan tidak akan pernah tertukar? Right? ^_^
Tapi..
Hidup itu (memang) pilihan.
Kita sendiri yang (harus) memilih ingin bahagia atau sengsara.
Ingin diam atau bergerak.
Ingin menangis atau tersenyum.
Ingin berjalan atau berlari.
Yang jelas,
Waktu akan semakin singkat.
Usia akan terus bertambah.
Dan kita? ya bagaimana kita menyikapinya saja..
^_^
Jika ada yang mengatakan: "Bukan masalah keIKHLASan. Tapi ini tentang rasa.. rasa yang begitu kuat mendominasi.."
Maka aku akan mengatakan: "Justru rasa itu yang harus di tuangkan pada bejana keIKHLASan.."
*)belajar menterjemahkan rasa(*
Kita hanya bisa menduga human error kita sebagai manusia, atau menyalahi keadaan yang tidak mendukung..
Kenapa tidak dengan legowo saja kita katakan:
"Mungkin memang belum rejeki kita.."
Bukankah segala yang menjadi rejeki kita akan sampai kepada kita dan tidak akan pernah tertukar? Right? ^_^
Tapi..
Hidup itu (memang) pilihan.
Kita sendiri yang (harus) memilih ingin bahagia atau sengsara.
Ingin diam atau bergerak.
Ingin menangis atau tersenyum.
Ingin berjalan atau berlari.
Yang jelas,
Waktu akan semakin singkat.
Usia akan terus bertambah.
Dan kita? ya bagaimana kita menyikapinya saja..
^_^
Jika ada yang mengatakan: "Bukan masalah keIKHLASan. Tapi ini tentang rasa.. rasa yang begitu kuat mendominasi.."
Maka aku akan mengatakan: "Justru rasa itu yang harus di tuangkan pada bejana keIKHLASan.."
*)belajar menterjemahkan rasa(*
Komentar
Posting Komentar