Sebenarnya,, apa yang harus di cari dalam hidup ini,,?
Hari ini,, aku menelusuri koridor rumah sakit untuk menjenguk 2 kerabat yang,, hmm..sangat berbeda latar kehidupannya...
Keluarga A, dengan sekian rumah dan fasilitas yang dimilikinya,,dapat dikatakan: "dunia ada dalam genggamannya" ,,hehe ;)
Sedangkan keluarga B kehidupannya bertolak belakang dengan keluarga A.
Ada sedikit yang mengusik hatiku: "ternyata orang yang se-kaya itu bisa juga ya,, menderita,,"
dengan fasilitas yang di milikinya, tetap saja keluhan demi keluhan terucap olehnya..
Sehingga aku berpikir: mengapa tidak di tukarnya saja segala keluhannya dengan sejumlah kekayaannya sehingga tertebuslah letihnya,, terbayarlah dukanya,,
Sebenarnya,, apa yang harus di cari dalam hidup ini?
Kekayaan yang berlimpah? walaupun tetap tidak bisa membeli duka?
Atau menerima segala yang tertaqdir walaupun tidak berlimpah materi?
Kalau tetap harus menerima duka, buat apa kaya?
Bukankah niat mencari kekayaan adalah untuk menghindari duka?
Duka kurang makan,, duka kurang pendidikan,, duka kurang fasilitas,, dll,,
Bukankah jika kita berduka terasa hancur segalanya??
Kalo gitu, buat apa kaya?
Hufftt... bingung juga...
Disisi lain,,
Orang-orang yang hidupnya kekurangan, kurang makan, kurang fasilitas, tidak bisa berobat,
menyadari kekurangan/kemiskinan dan menerima keadaan itu,, tidak mengeluh,,
Menjalani hidup sebaik mungkin,, tidak menyakiti orang lain,,
dan senantiasa memperbaharui ketaqwaan..
Jika harus memilih, mana yang lebih baik untuk dipilih?
Mencari kekayaan sepanjang hidup namun tetap tidak bisa mengcover duka,
atau,,
Menerima kemiskinan dengan segala kekurangannya?
Sebab sejatinya, menurutku,kemiskinan bukanlah penderitaan,,
Semua tergantung pada sikap kita.
Harta milik adalah rejeki, dan keberuntungan adalah juga akibat usaha kita.
Manusia boleh berusaha,, tetapi rejeki tetap Allah yang menentukan,,
Allah tetap akan memberikan rejeki,, baik pada orang jahat maupun orang sholih,,
Sikap kita menghadapi rejeki dan kekayaan,,
Sikap kita menghadapi ketidak beruntungan dan kemiskinan,,
akan menentukan apakah kita menderita atau tidak,,
Penderitaan bukan hanya dari kemiskinan,,
buktinya,, orang2 kaya pun 'bisa' menderita,,
dan mereka tidak bisa membelinya dengan sejumlah kekayaannya,,
Penderitaan berasal dari sikap hidup kita sendiri,,
sikap menerima kenyataan, sebagai kenyataan harus di terima,,
Masalah memang selalu ada dalam kehidupan kita..
Tidak harus kaya atau miskin...
Mencari kekayaan sebanyak2nya juga bukan solusi untuk membebaskan diri dari duka,,
"Siap menerima apa adanya dan berperilaku yang terbaik,," itu inti dari kehidupan ini,,
Pendek kata,, ternyata,,
Penderitaan bukan semata2 berasal dari kemiskinan/kekurangan,,
Penderitaan ada dalam diri manusia,, dalam sikap hidup kita,,
...
Keluarga A, dengan sekian rumah dan fasilitas yang dimilikinya,,dapat dikatakan: "dunia ada dalam genggamannya" ,,hehe ;)
Sedangkan keluarga B kehidupannya bertolak belakang dengan keluarga A.
Ada sedikit yang mengusik hatiku: "ternyata orang yang se-kaya itu bisa juga ya,, menderita,,"
dengan fasilitas yang di milikinya, tetap saja keluhan demi keluhan terucap olehnya..
Sehingga aku berpikir: mengapa tidak di tukarnya saja segala keluhannya dengan sejumlah kekayaannya sehingga tertebuslah letihnya,, terbayarlah dukanya,,
Sebenarnya,, apa yang harus di cari dalam hidup ini?
Kekayaan yang berlimpah? walaupun tetap tidak bisa membeli duka?
Atau menerima segala yang tertaqdir walaupun tidak berlimpah materi?
Kalau tetap harus menerima duka, buat apa kaya?
Bukankah niat mencari kekayaan adalah untuk menghindari duka?
Duka kurang makan,, duka kurang pendidikan,, duka kurang fasilitas,, dll,,
Bukankah jika kita berduka terasa hancur segalanya??
Kalo gitu, buat apa kaya?
Hufftt... bingung juga...
Disisi lain,,
Orang-orang yang hidupnya kekurangan, kurang makan, kurang fasilitas, tidak bisa berobat,
menyadari kekurangan/kemiskinan dan menerima keadaan itu,, tidak mengeluh,,
Menjalani hidup sebaik mungkin,, tidak menyakiti orang lain,,
dan senantiasa memperbaharui ketaqwaan..
Jika harus memilih, mana yang lebih baik untuk dipilih?
Mencari kekayaan sepanjang hidup namun tetap tidak bisa mengcover duka,
atau,,
Menerima kemiskinan dengan segala kekurangannya?
Sebab sejatinya, menurutku,kemiskinan bukanlah penderitaan,,
Semua tergantung pada sikap kita.
Harta milik adalah rejeki, dan keberuntungan adalah juga akibat usaha kita.
Manusia boleh berusaha,, tetapi rejeki tetap Allah yang menentukan,,
Allah tetap akan memberikan rejeki,, baik pada orang jahat maupun orang sholih,,
Sikap kita menghadapi rejeki dan kekayaan,,
Sikap kita menghadapi ketidak beruntungan dan kemiskinan,,
akan menentukan apakah kita menderita atau tidak,,
Penderitaan bukan hanya dari kemiskinan,,
buktinya,, orang2 kaya pun 'bisa' menderita,,
dan mereka tidak bisa membelinya dengan sejumlah kekayaannya,,
Penderitaan berasal dari sikap hidup kita sendiri,,
sikap menerima kenyataan, sebagai kenyataan harus di terima,,
Masalah memang selalu ada dalam kehidupan kita..
Tidak harus kaya atau miskin...
Mencari kekayaan sebanyak2nya juga bukan solusi untuk membebaskan diri dari duka,,
"Siap menerima apa adanya dan berperilaku yang terbaik,," itu inti dari kehidupan ini,,
Pendek kata,, ternyata,,
Penderitaan bukan semata2 berasal dari kemiskinan/kekurangan,,
Penderitaan ada dalam diri manusia,, dalam sikap hidup kita,,
...
Komentar
Posting Komentar